Oleh: bpt situbondo | 30 November 2009

Bertemu Banteng di Taman Nasional Baluran


Setiap mengunjungi Taman Nasional Baluran penulis selalu menemui hal – hal baru yang sangat luar biasa. Jika pada kunjungan pertama, dikejutkan dengan keberadaan satwa dan kehidupan satwa liar yang menakjubkan serta pada kunjungan berikutnya dikejutkan dengan pola-pola kelompok satwa serta simbiosa antar satwa tersebut. Pada kesempatan ini, penulis kembali mengunjungi TN Baluran untuk sedikit banyak mengetahui perkembangan penghuni taman nasional ini pada masa-masa akhir musim kemarau. Perlu diketahui, sampai dengan akhir November 2009 di kawasan TN Baluran sudah kurang lebih 6 bulan tidak turun hujan. Pada saat ini (akhir November 2009) sering terlihat gumpalan awan hitam dari arah Selat Bali dan Selatan Gunung Baluran sebagai tanda akan segera berakhirnya musim kemarau. Pada saat-saat seperti ini biasanya sering ditemui ‘kesibukan’ satwa liar termasuk kegiatan petugas TN Baluran pada akhir menjelang berakhirnya musim kemarau masih berupaya mengurangi populasi pohon Akasia yang perkembangannya sangat mengancam keberadaan savana taman nasional ini.

Rasa penasaran penulis akan TN Baluran, terutama berkaitan dengan keberadaan banteng jawa (Bos javanicus javanicus) yang merupakan maskot utama TN Baluran. Sudah hampir setahun ini penulis melacak keberadaan banteng tersebut. Menurut petugas TN Baluran selain perburuan liar, predator dan kerusakan kawasan Taman Nasional (termasuk akibat populasi akasia dan pengendalian akasia oleh pihak Taman Nasional) menyebabkan perubahan perilaku hewan tersebut. Banteng jawa biasanya muncul atau gampang terlihat pada saat minum atau berkubang secara berkelompok pada pagi hari atau sore hari. Namun karena hal tersebut dia atas, kawanan banteng tersebut menjadi lebih sulit dipantau atau terlihat. Apalagi karakter banteng yang sangat peka pendengarannya membuat lebih sulit lagi untuk mendekati hewan langka tersebut. Pihak Taman Nasional sendiri memasang kamera CCTV di beberapa lokasi untuk memantau keberadaan banteng atau satwa lainnya.

Untuk melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan banteng dan atau satwa lainnya yang sedang berkubang atau turun minum tidak ada jalan lain selain harus bermalam di TN Baluran. Seperti biasa, penulis memutuskan untuk bermalam di Taman Nasional ini bukan pada saat liburan. Tujuannya supaya tidak terlalu berisik dan terganggu oleh pengunjung yang lain. Walaupun ini bukan kunjungan pertama kalinya bagi penulis, namun ada saja yang membuat saya betah berlama-lama mengamati suatu objek. Padahal untuk mengamati suatu objek yang satu dengan yang lainnya terpaut jarak cukup jauh. Belum lagi keinginan untuk memantau pergerakan banteng yang mengharuskan kita diam berlama-lama di satu tempat. Dengan menginap satu hari saja tentu tidaklah cukup !

Penulis tiba sore hari di TN Baluran ini, sekitar pukul 3 sore. Kemudian segera menuju Pantai Bama, melewati long road di savana Bekol. Di sekitar pantai Bama, menyisir pantai sekitar 4 km ke arah utara kadang ditemui rusa, babi hutan,kerbau liar atau bahkan banteng. Tetapi sore itu nihil, tidak ditemukan hewan-hewan tersebut. Selain kawanan kera abu-abu, lutung dan berbagai jenis unggas. Untuk mengurangi rasa penat dan lelah, sejenak saya beristirahat di pinggir pantai. Pantai yang tenang,sepi, bersih, tidak ada ombak dan angin sepoi-sepoi menggoda saya untuk segera melepaskan pakaian dan menceburkan diri ke laut. Rasanya begitu menyegarkan, lepas sejenak dari lelah dan kepenatan. Hampir saja saya lupa jika mau memantau banteng harus segera dipersiapkan segala sesuatunya. Ah, Pantai Bama memang memabukkan buat orang yang mendambakan pantai yang bersih, tenang dan sunyi.

Sore menjelang pukul lima, saya masih belum menemukan tempat yang cocok untuk memposisikan sebagai tempat untuk memantau banteng atau hewan-hewan yang akan muncul pada saat turun minum. Padahal untuk setelah menemukan lokasi yang cocok untuk memantau, kita harus diam berlama-lama tidak berisik atau menimbulkan gerakkan yang membuat hewan-hewan itu menjauh. Setelah menemukan sedikit bekas kubangan (di posisi 7o50’12,86” South dan 114 o26’23,23” East, sekitar 2,66 km lurus ke arah Barat (elev. 5o) dari arah tempat saya berenang atau sekitar 3,79 km jika mengikuti jalan setapak) yang saya kira merupakan bekas kubangan kerbau liar atau banteng (!) saya memutuskan untuk sedikit menjauh dan menentukan lokasi dimana saya bisa mengamati hewan tersebut tanpa terlihat atau mengganggu aktifitas mereka. Di kaki sebuah bukit kecil, sekitar 200 m dari bekas kubangan saya diam terpaku, menunggu kejutan-kejutan yang mungkin muncul.

Agak jauh dari tempat persembunyian saya, di atas pohon beberapa ekor lutung juga mengamati saya. Sedangkan di bawah sana, dekat kubangan. Terdengan suara merak dan ayam hutan bersahutan. Sepertinya mereka memberi tanda bahwa ada manusia yang sedang mengamati mereka. Cukup lama pengamatan saya tidak menemukan kejutan yang berarti. Harus lebih sabar, padahal rasanya sudah pegal sekali. Belum lagi gangguan dari beberapa ekor tikus hutan yang mengendus-endus isi ransel saya.

Menjelang pukul 6 sore, juga masih ada tanda-tanda kemunculan banteng atau kerbau liar. Padahal suasana sudah mulai agak gelap, (dan kamera penulis tidak cukup kuat untuk menangkap objek foto dalam suasana seperti ini !) beberapa ekor merak dan ayam hutan sudah berani mendekat dan turun minum. Puluhan ekor burung tekukur juga tanpak minum. Masih tidak ada tanda tanda kedatangan kawanan banteng. Hampir saja saya beranjak pergi dari tempat ini karena tidak tahan dengan gigitan nyamuk dan serangga yang mulai muncul dan tikus hutan yang sudah mulai mengendus-endus sepatu dan ransel saya, Namun saya dikejutkan dengan kedatangan sekawanan kerbau liar (Bubalus bubalis) kira –kira berjumlah 14 ekor, 4 ekor diantaranya adalah anak-anaknya. Kawanan kerbau liar tersebut nampak berjalan tenang beriringan dari arah Timur, pejantan dominan tampak pada iringan terakhir. Setelah itu mereka berkubang dan minum di genangan tersebut. Alhamdulillah foto dan film kawanan kerbau masih bisa saya dokumentasikan.

kerbau liar

Setelah sekitar 10 -15 menit berkubang kawanan kerbau tersebut kemudian pergi. Saya sebenarnya sudah cukup puas bisa melihat dari jarak cukup dekat kawanan kerbau liar ini, dan hendak segera pergi karena keadaan sudah cukup gelap dan saya tidak membawa cukup alat penerangan. Namun dari arah Barat atau Utara saya melihat ada sosok-sosok berwarna gelap, jumlahnya sekitar 5-7 ekor saya belum tahu pasti. Tapi satu ekor diantaraya saya berani memastikan adalah anaknya karena berwarna lebih cerah (tepatnya coklat muda) dan berlarian kesana kemari. Agaknya inilah dia Banteng Jawa ( Bos javanicus javanicus ) itu !!! Keadaan saat itu cukup gelap, hanya satu ekor yang keliahatan agak jelas. Banteng yang nampak jelas itu nampaknya adalah pejantan dominan, bertubuh tegap, warna kulitnya hitam atau gelap dengan warna putih di ke empat kakinya, nampak terus memandang ke arah saya. Sedangkan kawanan lainnya tidak kelihatan karena terututup oleh gelapnya malam dan diantara pepohonan. Rasa pegal setelah duduk diam hampir 1 (satu) jam lebih, sirna sudah terobati dengan momen yang sangat langka ini. Rasanya (buat saya) sangat mengharukan, masih bisa melihat kawanan Banteng Jawa yang langka di habitat aslinya. Sayang sekali karena keterbatasan peralatan, kamera yang dibawa penulis tidak mampu menangkap atau mengabadikan momen yang luar biasa ini.

Banteng Jawa merupakan satwa endemik di pulau jawa. Keberadaannya saat ini diperkirakan (jika ada) di sekitar Taman Nasional Ujungkulon-Banten, Cagar Alam Sajangheulang dan Cagar Alam Pananjung di Jawa Barat. Sedangkan di Jawa Timur selain di TN Baluran ada di kawasan TN Bromo-Tengger-Semeru, TN Meru Betiri dan TN Alas Purwo. Keberadaan satwa eksotis ini terancam punah karena perburuan liar dan kerusakan ekosistem.

Suatu saat saya akan kembali lagi ke TN Baluran dan dengan gadget yang lebih baik, agar bisa mengabadikan satwa langka ini dan menginformasikan sebisa mungkin tentang keberadaannya supaya bisa (tetap) lestari dan tidak tinggal nama atau cerita seperti harimau jawa itu !

Tips dan Trik

Seperti tulisan terdahulu mengenai TN Baluran, saya tidak akan bosan memberikan saran (yang sama ) jika anda ingin melihat satwa atau hewan khas di Taman Nasional ini ;

  1. Datanglah pagi sekali atau sore menjelang maghrib, karena aktivitas satwa akan mudah terlihat. Jika perlu menginap 1-2 malam, karena lokasi yang satu dengan lainnya cukup berjauhan.
  2. Jika datang bersama rombongan atau dalam jumlah banyak, bagilah menjadi kelompok-kelompok kecil. Maksimal 3 orang. Sehingga tidak terlalu ramai atau berisik, dan bisa share informasi mengenai lokasi suatu objek.
  3. Jika sudah mendapatkan spot atau lokasi pengamatan, usahakan tidak mengeluarkan suara berisik, merokok atau bergerak ke sana kemari. Diamlah barang 1-2 jam.
  4. Indikator bahwa kedatangan/pengamatan kita tidak mengganggu hewan lain adalah jika merak, ayam hutan, burung atau lutung tidak mengeluarkan ‘semacam suara peringatan’. Jika merak atau ayam hutan tersebut merasa nyaman atau tidak terusik, mereka tidak segan-segan mendekat, walaupun masih dalam radius 50 – 100 meter.
  5. Usahakan kamera atau gadget yang anda pakai tidak mengeluarkan suara asing atau terlalu nyaring ketika loading. Banteng dan Rusa dikenal memiliki indera pendengaran dan insting yang peka.
  6. Jika anda bermalam di pesanggrahan atau guest house di sekitar savanna Bekol, sore menjelang maghrib biasanya banyak tikus hutan berkeliaran (bahkan sampai masuk ke kamar di pesanggrahan/guest house itu !). Bekal atau makanan yang sebaiknya disimpan dalam tas atau ransel dan tertutup rapat. Hati-hati juga terhadap hewan oportunis yang lain seperti kera abu-abu (Maccaca maccaca sp)
  7. Jangan ambil apapun kecuali foto dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki anda.

Tentang Pengendalian Pohon Akasia

Menjelang berakhirnya musim kemarau pihak Taman Nasional Baluran berupaya mengurangi populasi pohon Akasia ini. Karena jika turun hujan perkembangannya akan sangat pesat, mengalahkan pertumbuhan dan perkembangan vegetasi asli TN Baluran. Upaya yang dilakukan adalah, jika lokasi antar pohon berjauhan adalah dengan membakar pohon Akasia itu satu persatu. Sedangkan jika lokasi pohon Akasia itu berdekatan maka dibakar dalam satu area kecil dan dibatasi dengan semacam parit.

Pada waktu pembakaran atau pengendalian populasi akasia ini, lokasi savanna sangat rawan kebakaran. Oleh karena itu pengunjung diharapkan berhati-hati dan tidak sembarangan menyalakan api.


Responses

  1. Wah, menarik sekali tulisannya Pak, saya jadi tertarik main ke TN Baluran, cuma saya anti tikus,hehe..,gimana yaa, tikus hutannya bener2 banyak pak yaa?

    • Tikus kelihatannya terkonsentrasi di sekitar pos savana bekol dan pesanggrahan di sekitarnya karena banyak sampah, tp ga apa-apa. Tikus hutan kan lebih bersih….

  2. selamat sore pak saya arief dari jakarta ada rencana mau ke meru betiri, alas purwo, baluran dan bromo.
    saya mau tanya pak dari meru betiri tembus tidak yaa ke pesanggrahan naik motor
    dan perijinan untuk masuk areal taman nasional bagaimana mohon petunjuk
    salam hangat
    Arief

    • Maksudnya pesanggrahan TN Baluran ? Saran saya ke Meru Betiri dulu, Alas Purwo, Baluran, lalu terakhir Bromo. Tidak ada perizinan khusus jika datang perorangan dan menginap tidak terlalu lama.

  3. Salam Lestari…
    Saya didit dari kediri, planningnya akhir januari ini akan jalan-jalan ke pantai bama di baluran, sekaligus pengen melihat baluran ketika musim penghujan. seru pastinya karena flora nya pada hijau. Pak saya mau tanya kalau rute batangan ke bekol kita tempuh dengan jalan kaki apakah memungkinkan dan aman? terima kasih.
    Best Regars,
    Didit Prasetyo

    • Salam Lestari …
      Aman sekali pak, saat ini kawasan TN Baluran memang lebih hijau setelah hujan sempat turun. Dalam perjalanan dari Batangan ke Bekol, jika pagi hari atau sore akan lebih banyak menemui ayam hutan, beberepa jenis unggas, kera abu abu (Maccaca spp). Hewan besar spt rusa, banteng atau kerbau liar akan lebih sulit dilihat karena mereka akan kembali masuk ke hutan yang lebih lebat vegetasinya.

  4. alhamdulillah kemarin saya sudah mengunjumgi baluran dan melakukan penelitian ke pantai bama karena terkait denan mata kuliah yang saya ikuti yaitu zoo avertebrta sehinnga meneliti tentang keragaman hewan laut yang ada disana. yang menarik lagi ternyata panitia juga menyiapkan penjelajahan ke pantai mangrove sehingga saya juga mengetahui jenis-jenis mangrove dan karakteristiknya dibimbimg oleh tour guide. selain itu yang paling menarik saat berjalan dari pantai bama hingga ke bekol elihat savanna dengan suguhan gunungindah yng terpapar di depan saya. sungguh indah…. saya juga mnempatkan diri saya untuk naik ke atas nenara dan elihat di sekeliling savanna saya melihat lautan terhampar dan juga hutan, pantai yang terhampar hibgga selat bali….
    semuanya sangat indah saya tidak dapat mnegungkapkannya satu persatu yang pasti saya sangat bersyukur pernah mendatangi taman nasional Baluran…..
    untuk para penjaga dan pengelola saya mohon untuk menjga dengan baik taman nasional baluran katrena dsungguh dsangat disayangkan jika keindahan pemandangan dan keanekaragaman flora dan fauna disana rusak…..jadi mohon djaga dengan sebaik-baiknya….. terima kasih

  5. oya,maaf banyak yang salah ketik

  6. Halo Pak,
    Saya ada rencana ke Baluran. Kalo dari Probolinggo, rutenya gimana, dan berapa biayanya? Soal penginapan, kalo bromo kan penginapan gak jauh dari lokasi bromo itu sendiri, kalo Baluran gimana? Kurang lebih sama?
    Atraksi apa saja yang bisa dinikmati?
    Terima kasih
    Dede – Yogya

    • halo juga,
      dari Probolinggo bisa naik bis arah situbondo (tarif bis ekonomi 12-14 rb) kemudian lanjut ke arah banyuwangi (tarif bis ekonomi sekitar 8-10 rb) berhenti di depan pintu masuk TN Baluran. Lokasinya persis di pinggir jalan Jln Raya Surabaya – Banyuwangi.
      Penginapan tersedia di area TN Baluran, yaitu di savana bekol dan pantai bama. Tarf bervariasi dari mulai 30 rb-an s/d 200 rb an. Tarif masuk 2500/orang, tidak termasuk kendaraan bermotor. Tarif untuk turis mancanegara disesuaikan.
      Antraksi di TN Baluran adalah panorama savana, pantai, hutan bakau,diving dan kayak serta aktivitas satwa liar khas baluran.
      Demikian, semoga membantu.

  7. di TN Baluran bama situbondo ada keanekaragaman apa saja pak? terima kasih.

    • di pantai bama bisa ditemui kera abu-abu (macaca macaca), kera ekor panjang (lutung), biawak, taman laut, berbagai jenis unggas. Di ekosistem hutan bakau juga banyak satwa lain.

  8. Terima kasih sudah mem-follow website ccrc farmasi UGM. Saat ini kami pindah domain ke: http://www.ccrc.farmasi.ugm.ac.id/

  9. tarifnya masuknya berapa?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: