Oleh: bpt situbondo | 9 September 2008

Mendaki Argopuro (3088 mdpl)


Sebenarnya sudah lama saya ingin mendaki khususnya lokasi yang bisa dan mudah di akses dari Kabupaten Situbondo. Kira – kira sebulan sebelum pendakian ada telepon dari salah satu kawan saya, Fauzan Hakim alias bule dari Bandung, untuk mendaki gunung di Jawa Timur. Pada saat itu pilihannya adalah Gunung Argopuro atau Gunung Raung, akhirnya setelah dilakukan beberapa survey diputuskan untuk mendaki Argopuro, sebelumnya dari Bandung teman saya ini akan mengajak 1-2 orang lagi.

Akhir bulan November, teman saya ini memberitahukan kesiapan tanggal pendakian, pembagian logistic-equipment dan lama pendakian, dan ternyata dari Bandung tidak ada rekan yang akan ikut serta. Maklum pada saat itu bukan masa liburan, walaunpun demikian hal itu tidak menyurutkan niat kami untuk mendaki Argopuro. Akhirya hanya kami berdua yang berangkat dan teman ini akan berangkat dari Bandung dengan membawa perlengkapan utamanya adalah tenda dan kamera. Sedangkan saya bertugas menyiapkan Logistik dan beberapa perlengkapan penunjang lain. Perkiraan pendakian kira-kira 7 hari, dengan logistik untuk 2 orang disiapkan untuk 10 hari. Jalur yang akan dilalui adalah melalui Bremi, Probolinggo. Berikut ini adalah catatan perjalanannya ;

30 November 2007

Kira –kira setelah waktu Zuhur, teman saya memberitahukan kalau dia sudah berangkat menuju Surabaya dari Bandung dengan menggunakan KA Pasundan. Tiba di Surabaya diperkirakan jam 8-9 malam. Dari Surabaya dia langsung menuju Terminal Bungurasih untuk selanjutnya naik Bis menuju Probolinggo, dari Probolinggo terus ke terminal lama tempat pangkalan Bis ¾ menuju Bremi. Malam hari kira-kira pukul 10 – 11 jam saya sempatkan ke Terminal Situbondo melihat ada tidaknya bis menuju Probolinggo, sampai jam 1130 malam tidak ada bis yang saya tunggu akhirnya saya putiskan untuk ke probolinggo pagi hari, setelah shlolat Shubuh. Nanti kami akan bertemu di Panjarakan, Probolinggo

1 Desember 2007

jam 7-8 pagi akhirnya kami bertemu di Panjarakan, setelah istirahat, ngopi dan tanya ini itu akhirnya kami berangkat menuju Bremi. Setelah kira –kira 45 menit kami tiba di Bremi, dari sini kami bergegas ke Polsek Bremi yang terletak kira-kira 10 meter dari terminal Bremi. Walaupun kami sempat tidak diperkenankan mendaki dengan alasan jumlah kami cuma 2 orang, musim hujan serta saat itu bukan musim pendakian. Tapi akhirnya dengan beberapa pertimbangan, pengertian dan masukan dari Pak Kapolsek akhirnya kami mendapat izin mendaki. Setelah melapor dari Polsek Bremi kami bergegas karena hari sudah menjelang siang. Setelah 1 jam perjalanan akhirnya, kami tiba di Pos PHPA Argopuro, tadinya kami juga akan melapor tetapi karena tampak sepi dan kosong tidak ada petugasnya, maka kami pun meneruskan perjalanan. Sepanjang perjalanan (3-4 jam) masih merupakan daerah pedesaan dimana di sisi kanan kiri jalan setapak merupanan lahan pertanian warga serempat yang pada saat itu didominasi dengan tanaman cabe dan tomat

Jam 10.30 akhirnya kami tiba di depan hutan dammar yang merupan pintu gerbang menuju Argopuro.  Dari sini perjalanan berat pun dimulai. Dengan kemiringan rata-rata 45 s/d 60, kondisi tanah yang basah dan ber-lintah (banyak banget!). Musim hujan memang membuat lintah-lintah kelaparan setelah dorman selama musim kemarau di dalam tanah.

Jam 13.10 kami beristirahat dulu untuk makan, sholat dan memeriksa tangan dan kaki kami dari lintah-lintah, pada saat istirahat ini kami sempat berpapasan dengan burung Rangkong yang sedang terbang rendah..Benar-benar pengalaman menakjubkan yang sebelumnya tidak pernah saya jumpai pada saat mendaki gunung-gunung di Jawa Barat.

Jam 16.34, akhirnya kami tiba di persimpangan jalan antara Danau Taman Hidup (ke arah kanan) atau lurus (arah menuju Sicentor). Di danau Taman Hidup kami putuskan untuk mendirikan tenda dan menginap. Danau Taman Hidup adalah sebuah telaga alam yang luas dengan dikelilingi oleh hutan topis yang lembab dan pekat dengan fauna yang masih begitu terasa ramai, dicirikan dengan suara berbagai jenis burung yang ramai. Sayang kami tidak bisa berlama-lama menikmati keadaan yang luar biasa ini, karena malam akan segera datang serta kabut sore yang mempercepat keadaan menjadi lebih gelap. Setelah makan malam, sambil menikmati kopi dan makanan ringan kami mengevaluasi perjalanan hari itu. Selama perbincangan itu, beberapa kali kami diganggu oleh kedatangan beberapa ekor tikus hutan, yang mencoba mengorek isi perbekalan di tas ransel kami. Akhirnya kami putuskan untuk segera tidur dengan mematikan lampu, walaupun demikian tikus-tikus itu tetap saja mencoba peruntungannya, bahakan sampai naik di atas tenda ‘Dome’ kami. Tapi untung tidak berlangsung lama, kami juga tidak tahu sebabnya tikus tikus itu tidak menggganggu lagi…yang penting mah bisa tidur pules.

2 Desember 2007

Jam 5.00 pagi, benar-benar saat yang menyegarkan di Danau Taman Hidup. Dengan kabut pagi yang masih menyelimuti permukaan danau, kami mencoba sedikit menjelajahi daerah sekitar kami mendirikan tenda. Kami juga menjumpai 3 (tiga) orang relawan dari Yayasan PPS Petung Sewu Malang (sebuah NGO yang bergerak di bidang pelestarian satwa) yang sedang memantau dan memonitor beberapa ekor lutung jawa yang telah dikembalikan ke habitatnya.

Jam 10.00 : setelah banyak berbagi pengalaman dan cerita dengan kawan-kawan dari PPS Petungsewu akhirnya kami pamitan untuk meneruskan perjalanan kami ke Puncak Argopuro. Kawan-kawan baru ini juga menyempatkan diri untuk mengantar kami melalui jalan pintas yang sempat mereka rintis, lumayan dapat menghemat kira-kira 2-3 jam perjalanan.

Dengan ketinggian antara 3000-3100 mdpl, sebenarnya Gunung Argopuro hampir bisa disejajarkan dengan Gunung Ciremai di Jawa Barat, masalahnya adalah banyaknya puncak – puncak palsu dan punggungan yang harus dilalui untuk menuju Gunung Argopuro benar benar sangat menguras fisik dan mental kami, selain itu hujan juga menbuat ilalang dan rumput menutupi jalan yang kami tempuh. Di Kali Putih, kami sempat kehilangan jalan dan sempat berputar -putar mengitari beberapa jalan setapak yang ujung-ujungnya buntu.

Jam 16.00 : setelah berputar-putar di sekitar Kali Putih akhirya kami putuskan untuk istirahat sebentar (dan) untuk menenangkan diri.

Usai shalat Ashar akhirnya kami lanjutkan perjalanan, ternyata jalan yang kami cari tertutup oleh sebatang pohon tumbang yang lapuk…Alhamdulillah.. Mengingat jalan menuju Sicentor masih jauh, keadaan cuaca yang kami perkirakan akan hujan serta insiden kehilangan jalan tadi akhirnya menjelang maghrib, kami putuskan untuk bermalam disekitar sini.

 

3 Desember 2007

Jam 8.00 ; Usai sarapan pagi dan merapikan perlengkapan, akhirnya kami bergegas untuk menuju Cisentor. Selama perjalanan, kami sering menjumpai sejenis tumbuhan yang menimbulkan rasa sakit apabila tersentuh oleh kita. Tumbuhan penyengat yang dikenal dengan nama ilmiah Girardinia Palmata (orang Sunda bilang pohon tareptep). Dalam pendakian ke Gunung Argopuro dipastikan akan menemui pohon yang mengandung aliran listrik ini, rasa sakit akan terasa kembali jika kita menyentuh air dingin. Efek sengatan tumbuhan ini masih belum hilang sampai kira-kira seminggu, yang ditandai seperti tangan kesemutan..

Jam 10.45 ; Akhirnya kita sampai di sebuah padang rumput yang cukup luas, bekas hujan semalam kembali menutupi jalan setapak. Kira-kira satu jam kami sempat berputar putar mencari jalan. Di Padang rumput ini, kami juga sempat menemukan jejak kucing hutan (atau mungkin macan tutul), bekas kotorannya, juga beberapa helai bulu merak.

Jam 12.00 ; Setelah kira-kira 4 jam lebih akhirnya perjalanan kami sampai di Sicentor. Tempat ini merupakan pertemuan jalur Bremi, Probolinggo dan Baderan, Situbondo. Di Sicentor ini terdapat sebuah bangunan kecil dari kayu yang disediakan untuk para pendaki sebelum meneruskan ke Puncak Rengganis atau shelter untuk berlindung dari hujan dan angin. Di pondok ini kami dirikan tenda dan beristirahat untuk persiapan ke puncak rengganis dini hari nanti. Di sini kami memasak jamur kayu yang banyak ditemui waktu tersesat di Kali Putih.Hujan yang turun sejak kami tiba di Sicentor menambah nikmat sajian istimewa ini. Seperti biasa setelah kami memasak teh manis, kopi hangat, dan makanan kecil pun selalu menemani untuk menikmati malam yang indah di Sicentor.

4 Desember 2007

Jam 2.00 ; Sebenarnya rencana semula untuk summit attack adalah sekitar tengah malam, tempat peristirahatan kami di Sicentor yang cukup nyaman sebenarnya membuat saya malas bangun. Teman saya yang berinisiatif bangun dan segera bergegas membereskan tenda. Ransel kami sembunyikan di sekitar Sicentor, untuk perjalanan ke puncak kami hanya membawa satu daypack yang berisi makanan, air dan kamera. Kabut yang terkuak oleh embusan angin yang membelah daun-daun pohon cemara membuat suhu di Cisentor makin dingin. Dalam perjalanan ke Puncak Rengganis kami melewati sebuah padang rumput yang dikenal dengan Rawa Embik. Disini ada sebuah sungai kecil yang bisa diambil airnya. Perjalanan ke Puncak Rengganis ternyata juga masih harus menyusuri beberapa punggungan dan puncak palsu !Target mengejar Sunrise di Puncak Rengganis ternyata meleset dari dugaan kami.

Jam 4.40 ; kami masih berada di bawah Puncak Rengganis, masih ada dua punggungan dan satu puncak palsu lagi yang harus dilewati !! Setelah istirahat dan sholat Shubuh, kami pun meneruskan perjalanan. Dari sini kami tidak ngotot lagi untuk buru-buru sampai di puncak rengganis karena hari sudah agak terang dan ada beberapa objek foto yang menarik untuk kami ambil.

Jam 5.40 ; Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kami tiba di puncak Rengganis, Puncak seribu candi. Gunung argopuro adalah gunung berapi yang sudah mati, walaupun demikian bau belerang masih tercium cukup kuat. Reruntuhan candi dan sesajen yang dibawa oleh peziarah membawa atmosfir tersendiri. Dewi Rengganis konon merupakan salah satu selir Raja Brawijaya yang mengasingkan diri ke Gunung Argopuro. Setelah istirahat dan makan pagi, akhirnya kami bergegas turun kembali ke Sicentor

Jam 13.00 ; Setelah makan siang dan puas beristirahat, kami akhirnya bergegas ke arah Cikasur. Berbeda dengan jalur Bremi – Sicentor, jalur menuju Cikasur ini konturnya relative landai atau tidak terlalu curam. Vegetasi yang sering dijumpai atau dominan adalah hutan homogen berjenis pinus dan padang rumput (savana). Iklimnya pun relatif lebih kering, beda sekali dengan jalur Bremi – Sicentor yang jauh lebih basah. Sekelompok Lutung Jawa sempat ditemui kira-kira 30 menit setelah meninggalkan Sicentor, tumbuhan penyengat juga masih banyak dijumpai .

Jam 16.45 ; Akhirnya tibalah kami di sebuah padang rumput yang sangat luas dan luar biasa , juga pohon-pohon besar yang sesekali kami jumpai. Inilah Cikasur yang tersohor itu. Sayup-sayup terdengar berbagai macam suara penghuni hutan seolah-olah menghibur kami yang kelelahan. Setelah beristirahat dan makan malam, hangatnya di dalam tenda akhirnya mengantar kami ke tempat peraduan.

5 Desember 2007

Jam 6.30 ; Setelah selesai makan pagi dan berkemas untuk meneruskan ke Bremi, kami sempatkan untuk mengisi persediaan air di sebuah sungai kecil di Cikasur. Sungai ini sangat jernih, airnya sangat melimpah walaupun musim kemarau. Banyak ditumbuhi selada air, membuat ingin minum dan sepuasnya mandi menceburkan diri.

Jam 7.30 ; Sepanjang perjalanan menuju Baderan kami lebih sering menjumpai padang rumput dan hutan homogen. Strawberry hutan juga banyak dijumpai, melewati beberapa punggungan yang relatif landai serta cuaca yang lebih terik dan kering. Setelah hampir 8 jam berjalan, akhirnya kami tiba di ujung Desa Baderan. Walaupun kelihatan masih jauh, tanda-tanda perkampungan sudah mulai tampak, jalan tanah yang keras, ladang jagung dan tembakau.

Jam 16.10 ; Akhirnya kami tiba di ujung jalan desa menuju Baderan. Jalan yang diperkeras dengan batu, makadam, benar – benar sangat menyulitkan bagi kami. Telapak kaki kami ibaratnya seperti ditusuk – tusuk dengan benda tajam, perlahan dan sangat perlahan kami berjalan menyusuri jalan makadam ini. Menjelang Isya akhirnya kami tiba di Desa Baderan. Dari sini kami tinggal meneruskan perjalanan dengan angkutan setempat menuju Besuki.

Gunung Argopuro adalah gunung yang relatif sepi dari tujuan pendakian, sehingga tidak seramai gunung – gunung lain di Jawa Timur. Gunung ini juga memiliki beberapa puncak, beberapa diantaranya memiliki struktur geologi tua.. Oleh karena itu kesiapan pendaki sangat diperlukan sebelum memutuskan akan mendaki gunung ini. Dalam pendakian ke Gunung Argopuro ini, ada satu masa di mana kami terhenti sejenak, takjub dengan keindahan pemandangan di depan. Kepekatan kabut di padang rumput atau beberapa kali insiden pertemuan kami dengan beberapa satwa hutan merupakan suatu momentum tersendiri yang luar biasa. ….. Soe Hok Gie pernah berkata dengan berbagi waktu dengan alam , kita akan tahu diri kita yang sebenarnya


Responses

  1. membaca perjalanan pendakian gn. argopuro ini membawa saya seakan-akan ikut langsung dalam perjalanan ini, begitu indah dan sangat berkesan….diantos catatan perjalanan di gn. Raung na. hatur nuhun.
    Bravo kang Dadan sholehudin (Kuplux) dan Kang fauzan Hakim (Bule)
    Terima kasih buat BPT situbondo yang konsisten dalam pelesatrian Alam Indonesia.

  2. Gn. Argopuro. Obsesi zaman kuliah yang tertunda, he..he..he..
    Mantabslah.. Kang Bule dan Kang Kuplux…
    “..montani para liberi…” (penjelajah itu senantiasa bebas..)

  3. Selama ini,aku hanya melihat puncak rengganis dari sawah belakang rumahku…..!

  4. Ga ada salahnya mengenal lingkungan sekitar anda …

  5. G MW KE ARGOPURO LG TH?

  6. kepengen bgt deh kesana………..kapan ya……..

  7. Kerreeen…..

  8. alhamdulillah hoyong deui k argopuro, saya+tim BISMA ksana pas ngambil no…
    hoyong kaditu tapi teu ngambil no, sak karepku arep pirang ndino nang kono, ra ono sing nggoleti

  9. wah…ini tuh perjalanan yg dibahas d FB kang bule bukan sih? tp naha tanggalnya beda yah? atau emg yg ke Gn. Raungnya jd kemaren? klo tw ini tahun 2007 mah mun kitu hoyong pisan euy kaditu teh…coz itu masih masa2nya petualangan liar..hehehe

    • Judulnya saja kan jelas pendakian Gn Argopuro, kenapa Mas ? Pendakian lain tentunya akan kami tulis sesuai dgn nama gunungnya

  10. Sae kang caritana, abdi bade kaditu juli 2011 ayeuna, hatur nuhun infona


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: